Aku sudah lama
diam di kelas ini, belum ada seorang pun yang datang. Yah berharap, hari ini
adalah hari yang baik. Beberapa saat kemudian ada orang yang datang, ternyata
itu gadis yang selalu kesepian. Dia adalah Sinta, cantik, baik hati, dan punya
banyak talenta yang tersembunyi. “Kelas ini sepi lagi.” ucapnya. Dia selalu
berbicara sendiri dan selalu bernyayi ketika tidak ada orang yang melihatnya,
andai diriku bisa berbicara, kenapa kau menyembunyikan bakatmu, dan kamu bisa
berteman dengan yang lainnya. Tapi hal itu mustahil.
Sesaat ada
beberapa orang lagi yang datang. Ternyata segerombolan orang yang sepertinya
tidak asing bagiku, mereka adalah “the hunter” itulah nama grup mereka. Grup
itu terdiri dari 2 cewek dan 5 cowok yang tajir, mereka tidak lain Bagas,
Gilang, Ranu, Aying, Riki, Shanra, dan Maya . Dan aku tahu apa yang akan mereka
lakukan. “hahaha, kenapa gak sekalian aja loe pacaran sama banci itu?” ucap
Bagas terhadap Ranu. “Ngarang loe.” jawabnya.
Jujur aja
sebenarnya mereka semua adalah orang yang baik, mereka terbentuk bukan karena
mereka tajir(mereka orang paling tajir di kampus), melainkan mereka memiliki
pikiran yang sama.
“Eh, ada yang bawa
pulpen lebih gak? Aku lupa bawa kotak pensil?,” tanya Maya. Aku melihat Sinta
melirik ketika Maya bertanya walaupun tidak mungkin Maya akan meminjam padanya.
Aku tahu apa yang kau pikirkan kau pasti membenci sifat sosialmu yang tidak
baik itu.
“Kau punya pulpen lebih?” tanya Maya kepada
Sinta. Dan itu membuat Sinta merasa terkejut, dia mengira itu adalah mimpi.
“I..i.iya, pilih
saja mana yang mba mau.”, jawabnya agak gugup.
“Wah banyak
pilihannya, pulpen ini lucu banyak variasi warna tintanya, lihat deh Shan.”,
tunjuk Maya pada Shanra. “Iya keren, ada lagi gak? Gue jarang liat model pulpen
yang kayak gini.”, tanyanya.
Yah, kau tahu
walaupn aku hanya seorang meja, aku tahu sisi mereka yang lain yang tidak
mereka ketahui sama lain. Kau tahu The Hunter sebenarnya memiliki sifat yang
sangat baik yang tidak diketahui oleh para mahasiswa lainnya, mereka menganggap
bahwa The Hunter adalah orang yang sombong, mementingkan harga diri mereka, dan
menganggap mereka pasti sering membicarakan tentang uang. Dan kau tahu, itu
semua adalah kata-kata omong kosong yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Setelah mereka
membicarakan tentang pulpen tersebut dengan Sinta, mereka tertarik untuk
mengenal Sinta lebih jauh. “Kau beli dimna? Aku ingin memilikinya.” , tanya
Shanra, “Kalau mba mau ambil saja, saya masih punya di rumah.” , jawab Sinta. “Are
you sure?”, Tanya Shanra meyakinkan, “Yes, of course.” , jawab Sinta dengan
senyum. The Hunter terkesima melihat senyuman Sinta karena itu adalah pertama
kalinya mereka melihat Sinta tersenyum (hati mereka doki-doki). Aku yakin ini
adalah awal pertemanan dari mereka. Ini adalah sudut pandangku yang tidak
pernah kalian tahu, walaupun aku adalah sebuah meja. Aku Tahu Segalanya.




No comments:
Post a Comment