Menu

..::MARILAH KITA MERAIH KESUKSESAN DENGAN HATI YANG PENUH KEIHKLASAN::..

Thursday, 29 December 2016

Meja pun Tahu

Aku sudah lama diam di kelas ini, belum ada seorang pun yang datang. Yah berharap, hari ini adalah hari yang baik. Beberapa saat kemudian ada orang yang datang, ternyata itu gadis yang selalu kesepian. Dia adalah Sinta, cantik, baik hati, dan punya banyak talenta yang tersembunyi. “Kelas ini sepi lagi.” ucapnya. Dia selalu berbicara sendiri dan selalu bernyayi ketika tidak ada orang yang melihatnya, andai diriku bisa berbicara, kenapa kau menyembunyikan bakatmu, dan kamu bisa berteman dengan yang lainnya. Tapi hal itu mustahil.
Sesaat ada beberapa orang lagi yang datang. Ternyata segerombolan orang yang sepertinya tidak asing bagiku, mereka adalah “the hunter” itulah nama grup mereka. Grup itu terdiri dari 2 cewek dan 5 cowok yang tajir, mereka tidak lain Bagas, Gilang, Ranu, Aying, Riki, Shanra, dan Maya . Dan aku tahu apa yang akan mereka lakukan. “hahaha, kenapa gak sekalian aja loe pacaran sama banci itu?” ucap Bagas terhadap Ranu. “Ngarang loe.” jawabnya.
Jujur aja sebenarnya mereka semua adalah orang yang baik, mereka terbentuk bukan karena mereka tajir(mereka orang paling tajir di kampus), melainkan mereka memiliki pikiran yang sama.
“Eh, ada yang bawa pulpen lebih gak? Aku lupa bawa kotak pensil?,” tanya Maya. Aku melihat Sinta melirik ketika Maya bertanya walaupun tidak mungkin Maya akan meminjam padanya. Aku tahu apa yang kau pikirkan kau pasti membenci sifat sosialmu yang tidak baik itu.
 “Kau punya pulpen lebih?” tanya Maya kepada Sinta. Dan itu membuat Sinta merasa terkejut, dia mengira itu adalah mimpi.
“I..i.iya, pilih saja mana yang mba mau.”, jawabnya agak gugup.
“Wah banyak pilihannya, pulpen ini lucu banyak variasi warna tintanya, lihat deh Shan.”, tunjuk Maya pada Shanra. “Iya keren, ada lagi gak? Gue jarang liat model pulpen yang kayak gini.”, tanyanya.
Yah, kau tahu walaupn aku hanya seorang meja, aku tahu sisi mereka yang lain yang tidak mereka ketahui sama lain. Kau tahu The Hunter sebenarnya memiliki sifat yang sangat baik yang tidak diketahui oleh para mahasiswa lainnya, mereka menganggap bahwa The Hunter adalah orang yang sombong, mementingkan harga diri mereka, dan menganggap mereka pasti sering membicarakan tentang uang. Dan kau tahu, itu semua adalah kata-kata omong kosong yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Setelah mereka membicarakan tentang pulpen tersebut dengan Sinta, mereka tertarik untuk mengenal Sinta lebih jauh. “Kau beli dimna? Aku ingin memilikinya.” , tanya Shanra, “Kalau mba mau ambil saja, saya masih punya di rumah.” , jawab Sinta. “Are you sure?”, Tanya Shanra meyakinkan, “Yes, of course.” , jawab Sinta dengan senyum. The Hunter terkesima melihat senyuman Sinta karena itu adalah pertama kalinya mereka melihat Sinta tersenyum (hati mereka doki-doki). Aku yakin ini adalah awal pertemanan dari mereka. Ini adalah sudut pandangku yang tidak pernah kalian tahu, walaupun aku adalah sebuah meja. Aku Tahu Segalanya.    

No comments:

Post a Comment